Purbaya Ungkap Gaji Menteri Keuangan Lebih Rendah Dibanding Ketua LPS
- account_circle Hasanah 014
- calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
- visibility 59
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan Foto Purbaya Yudhi Sadewa/Sumber: LPS
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
HASANAH.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan gajinya saat ini lebih kecil dibandingkan ketika masih menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Meski demikian, ia menekankan bahwa peran sebagai Menkeu memberi ruang lebih besar untuk berkontribusi kepada negara.
Ia menuturkan, selama lima tahun memimpin LPS dirinya merasa nyaman karena kondisi perbankan nasional stabil dan tidak ada bank besar yang kolaps hingga harus ditanggung oleh lembaga tersebut.
“Saya menikmati betul kerja di LPS. Lima tahun gaji gede, enggak ada bank gede yang bangkrut,” katanya dalam acara GREAT Lecture Transformasi Ekonomi Nasional: Pertumbuhan yang Inklusif Menuju 8 Persen di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (11/9), ujarnya.
Purbaya mengisahkan, setelah dilantik menjadi Menkeu, ia sempat menanyakan nominal gaji yang diterima dan terkejut karena jumlahnya turun signifikan dibandingkan saat di LPS.
“Jadi waktu dilantik di menteri keuangan, saya tanya ke Sekjen, ‘eh gaji disini berapa, sekian’. Waduh, turun!” sambungnya.
Meski demikian, ia tetap bersyukur karena jabatan baru yang diembannya memungkinkan dirinya memberikan manfaat lebih luas untuk kepentingan negara.
“Namun, saya bersyukur menjadi Menkeu karena bisa berkontribusi lebih besar ke negara dibandingkan saat menjadi Ketua LPS,” tegasnya.
Kendati begitu, ia menegaskan bahwa LPS tetap memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sektor keuangan, meskipun keberadaannya lebih sering bekerja di belakang layar.
“LPS juga lembaga penting, tapi duduknya di belakang. Kalau bank-bank jatuh, baru kita bekerja keras,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menanggapi target Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen. Ia menyambut baik target tersebut meski menyadari tantangannya tidak ringan.
“Pak Prabowo bilang kita akan menciptakan pertumbuhan ekonomi 8 persen. Saya senang juga, bagus nih, kita kejar. Enggak gampang, tapi mungkin,” katanya.
Ia menambahkan, bila Indonesia hanya puas dengan capaian pertumbuhan sekitar 5 persen, maka risiko terjebak dalam middle income trap akan semakin besar.
“Kalau kita berpuas diri dengan pertumbuhan ekonomi yang saat ini 5 persen, maka bisa terjebak dalam middle income trap,” tuturnya.
- Penulis: Hasanah 014



