Rokok Elektrik Dapat Memicu Resiko Penyakit Berat Paru-Paru Termasuk Kanker
- account_circle Hasanah 012
- calendar_month Jumat, 17 Mei 2024
- visibility 76
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan foto rokok elektrik.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
HASANAH.ID – NASIONAL. Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Agus Dwi Susanto mengungkapkan hasil kajian dan studi klinis bahwa rokok elektrik tidak lebih aman dibandingkan rokok konvensional pada Selasa, (14/5/2024).
Menurutnya ada tiga komponen yang membahayakan kesehatan yaitu nikotin, karsinogen dan iratatif. Namun situasi rokok elektrik tidak kunjung menurun bahkan terus meningkat.
Prevalensi perokok elektrik dewasa (>15 tahun) meningkat 10x lipat dalam 10 tahun dari 2011 hingga 2021. Sedangkan prevalensi perokok elektrik remaja (10-18 tahun) meningkat hampir 10x lipat dalam dua tahun dari 2016 sampai 2018.
“Studi yang kami lakukan pada tahun 2023 sebanyak 76% laki-laki dan perokok aktif ketagihan karena rokok elektrik,” jelasnya.
Ia menjelaskan fakta sebenarnya uap rokok elektrik tidak aman sama sekali bagi manusia. Berbagai macam penyakit serius seperti radang paru, paru bocor hingga kanker paru dan pneumonitis yang biasanya ditemukan karena infeksi bakteri terjadi kasusnya karena terpapar bahan kimia dari rokok elektrik.
Penelitian yang dilakukan di Amerika sudah menunjukan ribuan kasus penyakit paru akibat rokok elektrik. Salah satu zatnya yang dapat memicu kanker adalah karsinogen.
“Rokok elektrik sudah terbukti menganggu fungsi paru dan menyebabkan perubahan yang buruk,” ungkap Agus.
Dampak rokok elektrik ini sudah sangat membahayakan menurutnya. Sudah banyak kasus di berita atau sosial media yang memperlihatkan penyakit serius karena mengonsumsi bahan kimia yang terdapat dalam rokok elektrik.
Bahkan penyakit seperti pneumonitis yang dirinya tidak pernah ditemukan di pasien perokok ada kasusnya di Indonesia. Bahkan jangka waktu perokok tersebut hanya memakai rokok elektrik 2,5 tahun.
“Risiko penyakit serius dan berat paru-paru ditemukan salah satu faktor terbesarnya adalah konsumsi nikotin yang berlebihan,” pungkasnya.
- Penulis: Hasanah 012
