Breaking News
Trending Tags

Walikota Korea Selatan Usul “Impor Wanita Muda” Demi Dongkrak Angka Kelahiran

  • account_circle Friska Putri Aryananta
  • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026 13:09 WIB
  • visibility 256
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KOREA SELATAN, Hasanah.id – Isu krisis demografi kembali memanas di Korea Selatan. Kali ini, sorotan publik tertuju pada pernyataan seorang kepala daerah yang dinilai melewati batas sensitivitas kemanusiaan.

Ucapan tersebut muncul di tengah kekhawatiran serius pemerintah mengenai anjloknya angka kelahiran nasional Korea Selatan. Namun alih-alih menawarkan solusi yang diterima luas, ide yang dilontarkan justru memicu kritik tajam dari dalam dan luar negeri.

Usulan Datangkan Perempuan Asia Tenggara

Wali Kota Kabupaten Jindo, Kim Hee-soo, menilai desa-desa di wilayahnya membutuhkan langkah cepat untuk mengatasi penyusutan penduduk. Ia mengusulkan agar para pria lajang di pedesaan dipasangkan dengan perempuan dari luar negeri.

“Kita harus mengimpor wanita muda dari Vietnam atau Sri Lanka agar para pemuda di daerah pedesaan dapat menikahi mereka,” katanya dalam pertemuan balai kota pekan lalu sebagaimana dimuat AFP, Senin (9/2/2026).

Pernyataan itu dengan cepat menyebar dan memicu reaksi keras. Banyak pihak menganggap penggunaan istilah “impor” terhadap manusia sebagai bentuk perendahan martabat.

Protes Mengalir, Kedutaan Vietnam Terima Pengaduan

Gelombang penolakan tak hanya datang dari warga lokal. Aduan resmi bahkan dilaporkan kepada Kedutaan Vietnam di Seoul. Kritik menilai ucapan tersebut memperlakukan perempuan seperti komoditas.

Pemerintah provinsi Jeolla Selatan, otoritas yang membawahi Jindo, akhirnya turun tangan. Mereka mencoba menenangkan situasi yang semakin panas sepanjang akhir pekan.

“Kami sangat meminta maaf atas pernyataan tidak pantas yang dibuat oleh walikota Jindo, yang telah menyebabkan rasa sakit yang mendalam bagi rakyat Vietnam dan kaum perempuan,” kata seorang juru bicara.

“Kata impor melanggar martabat manusia dan merendahkan martabat perempuan,” ujarnya menambahkan bahwa hal itu tidak pernah dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Friska Putri Aryananta
expand_less