Ini Reaksi Gibran saat Wacana Prabowo-Zulhas di Pilpres 2029 Semakin Memanas
- account_circle Friska Putri Aryananta
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026 22:45 WIB
- visibility 218
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Hasanah.id – Nama Gibran Rakabuming Raka ikut terseret dalam pembahasan politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Hal ini muncul setelah adanya wacana Presiden Prabowo Subianto berpeluang kembali maju dan disebut-sebut bisa berpasangan dengan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.
Menanggapi isu yang mulai ramai diperbincangkan itu, Gibran memberikan sikap yang jelas. Wakil Presiden RI tersebut menekankan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menjalankan amanah pemerintahan, bukan berbicara soal kontestasi lima tahun mendatang.
Dalam pernyataan resminya, Gibran menegaskan perannya sebagai pembantu Presiden yang bertugas memastikan agenda negara berjalan optimal.
“Sebagai pembantu Presiden, saya memiliki tanggung jawab untuk mengawal serta memastikan pelaksanaan program dan visi Bapak Presiden berjalan dengan baik,” tuturnya, dikutip Sabtu (7/2/2026).
PAN Pastikan Dukung Prabowo, Soal Pendamping Masih Flexible
Sebelum respons dari Gibran muncul, Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno lebih dulu berbicara mengenai peluang Pilpres 2029. Ia memastikan komitmen partainya terhadap Prabowo tetap kuat seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya.
“Saya kira Pak Zulkifli Hasan, ketua umum saya, pun dari awal sudah mengatakan bahwa PAN itu tidak ada urusan untuk permasalahan siapa yang akan kita dukung nanti di pilpres yang akan datang. Kita sudah tiga kali mendukung Bapak Presiden Prabowo, satu-satunya partai loh di luar Gerinda, yang konsisten mendukung Bapak Prabowo tiga kali dalam tiga pilpres,” kata Eddy kepada wartawan di DPR RI, Jakarta, sebagaimana dikutip detikcom.
Meski begitu, Eddy menilai posisi calon wakil presiden masih sangat terbuka. Menurutnya, banyak faktor yang harus diperhitungkan, termasuk kecocokan kerja sama hingga kekuatan dukungan publik.
“Kita tentu kita lihat nanti opsi-opsi terbaik, karena kembali lagi, apa namanya, paket itu tentu kan harus ada simbiosisnya, bisa bekerja sama dengan baik, dan ada juga dukungan elektoralnya juga tinggi dan sebagainya. Jadi pertimbangannya banyak untuk itu,” ucap Eddy.
- Penulis: Friska Putri Aryananta




