WFH Bukan Sekadar Tren! Muhaimin Iskandar Sebut Kerja Jarak Jauh Efektif Kurangi Pemborosan Energi
- account_circle Hasanah Team
- calendar_month Selasa, 14 Apr 2026 11:37 WIB
- visibility 138
- comment 0 komentar
- print Cetak

Cak Imin
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Di tengah bayang-bayang fluktuasi harga energi global yang kian sulit diprediksi, sebuah gagasan alternatif kembali mencuat ke permukaan. Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, mengusulkan agar kebijakan Work From Home (WFH) kembali dioptimalkan sebagai instrumen pengendalian konsumsi energi, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM).
Usulan ini tidak hanya relevan dalam konteks mobilitas masyarakat, tetapi juga menawarkan pendekatan strategis yang lebih luas dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Di tengah tekanan harga minyak dunia, langkah non-konvensional seperti WFH dinilai dapat menjadi solusi praktis yang berdampak langsung.
WFH sebagai Instrumen Pengendali Konsumsi Energi
Cak Imin menyoroti bahwa aktivitas harian masyarakat di kota besar masih sangat bergantung pada mobilitas kendaraan pribadi maupun transportasi umum berbasis BBM. Dengan menerapkan kembali sistem kerja jarak jauh, volume perjalanan dapat ditekan secara signifikan.
Pengurangan mobilitas ini secara langsung akan menurunkan konsumsi BBM harian, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung yang selama ini menjadi pusat kepadatan lalu lintas. Dalam skala nasional, dampaknya berpotensi cukup besar jika diterapkan secara terstruktur.
Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi bukti empiris bahwa produktivitas tidak selalu bergantung pada kehadiran fisik di kantor. Banyak sektor jasa dan perkantoran mampu beradaptasi dengan sistem kerja digital tanpa mengalami penurunan kinerja yang berarti. Hal ini membuka peluang untuk menjadikan WFH sebagai kebijakan strategis jangka menengah, bukan sekadar solusi darurat.
Efek Domino: Dari Jalanan hingga APBN
Manfaat dari kebijakan WFH tidak berhenti pada penghematan energi. Efek domino yang ditimbulkan juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah berkurangnya tingkat kemacetan di jalan raya, yang selama ini menjadi sumber pemborosan waktu dan bahan bakar.
Dengan lalu lintas yang lebih lengang, efisiensi transportasi meningkat dan kualitas hidup masyarakat perkotaan ikut terdongkrak. Dari sisi fiskal, penurunan konsumsi BBM bersubsidi akan memberikan ruang napas bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang selama ini terbebani oleh fluktuasi harga energi global.
Bagi rumah tangga, penghematan biaya transportasi harian dapat dialihkan ke kebutuhan lain yang lebih produktif. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Tantangan Implementasi dan Realitas Lapangan
Meski menawarkan banyak manfaat, implementasi kebijakan WFH tidak bisa dilakukan secara seragam di semua sektor. Industri manufaktur, layanan kesehatan, hingga sektor transportasi tetap membutuhkan kehadiran fisik tenaga kerja.
Namun demikian, untuk sektor berbasis layanan dan administrasi, skema kerja hybrid kombinasi antara WFH dan Work From Office (WFO) dinilai sebagai solusi paling realistis. Pendekatan ini memungkinkan efisiensi energi tetap tercapai tanpa mengorbankan koordinasi dan produktivitas tim.
Pemerintah pun didorong untuk mulai merumuskan kebijakan fleksibel yang dapat mengakomodasi kebutuhan masing-masing sektor. Regulasi yang adaptif akan menjadi kunci agar gagasan ini tidak berhenti sebagai wacana, melainkan dapat diimplementasikan secara efektif.
Arah Kebijakan Energi yang Lebih Adaptif
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pendekatan kebijakan energi tidak lagi bisa bergantung pada solusi konvensional semata. Usulan dari Muhaimin Iskandar ini membuka perspektif baru bahwa efisiensi energi juga bisa dicapai melalui pengelolaan pola kerja dan gaya hidup masyarakat.
Dengan memanfaatkan teknologi digital dan pengalaman masa lalu, Indonesia memiliki peluang besar untuk merancang sistem kerja yang lebih fleksibel, efisien, dan berkelanjutan. Jika dikaji dan diterapkan dengan tepat, WFH bukan hanya menjadi solusi sementara, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari strategi nasional dalam menjaga ketahanan energi.
Melalui sudut pandang ini, Hasanah.id melihat bahwa transformasi cara kerja bukan sekadar tren, melainkan instrumen kebijakan yang mampu menjawab tantangan zaman secara lebih cerdas dan adaptif.
- Penulis: Hasanah Team
- Editor: redaksi hasanah.id




