Nilai Tukar Rupiah Anjlok Parah ke Rp 17.606, Ekonomi RI Terancam?
- account_circle MFC Team
- calendar_month Jumat, 15 Mei 2026 13:40 WIB
- visibility 167
- comment 0 komentar
- print Cetak

Nilai Tukar Rupiah
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Hasanah.id – Kondisi stabilitas keuangan nasional tengah berada dalam tekanan hebat menyusul fluktuasi pasar finansial yang tidak menentu. Nilai tukar rupiah dilaporkan bergerak semakin loyo dan mencatatkan rekor pelemahan yang cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat pagi (15/5/2026) pukul 09.35 WIB, mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.606 per dolar AS, atau mengalami penurunan sebesar 77 poin yang setara dengan 0,44 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kelesuan ekonomi global menjadi faktor eksternal utama yang menyeret performa mata uang domestik ke zona merah. Padahal, beberapa hari sebelumnya, rupiah sempat menunjukkan taringnya dengan menguat ke level Rp 17.475 pada Rabu (13/5) setelah sempat menyentuh angka psikologis Rp 17.500. Namun, penguatan tersebut terbukti hanya bersifat sementara karena tren pelemahan kembali terjadi secara masif, mengikuti jejak mata uang negara-negara berkembang lainnya yang juga bertumbangan menghadapi kedigdayaan dolar AS.
Aksi Jual Investor Asing dan Tekanan Indeks MSCI
Fenomena penarikan modal oleh para investor asing menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan di pasar modal dalam beberapa hari terakhir. Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama pelemahan Nilai tukar rupiah adalah tekanan jual di pasar saham menjelang pengumuman penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Para pemilik modal cenderung memilih untuk mengamankan aset mereka ke instrumen yang lebih stabil guna menghindari risiko volatilitas yang tinggi menjelang perubahan indeks saham global tersebut.
Selain dinamika di bursa saham, para pelaku pasar juga mulai melakukan langkah antisipasi terhadap hari libur nasional. Sebagian besar investor memilih untuk melakukan aksi ambil untung dan mengalihkan aset mereka ke dalam bentuk valuta asing menjelang libur panjang peringatan Kenaikan Yesus Kristus pada pekan ini. Kondisi likuiditas yang cenderung menipis di pasar domestik saat menjelang libur panjang seringkali membuat nilai tukar menjadi lebih rentan terhadap tekanan jual sekecil apa pun.
Myrdal menambahkan bahwa faktor psikologis pasar ini sangat dominan. Ketika para manajer investasi global mulai melakukan penyesuaian portofolio menyusul pengumuman MSCI, aliran modal keluar (capital outflow) tidak dapat dihindarkan. Tekanan ini secara otomatis membebani neraca pembayaran dan memberikan sentimen negatif bagi pergerakan rupiah di pasar spot secara keseluruhan.
- Penulis: MFC Team




