Asap Karhutla Ganggu Pernapasan, Orang Utan Sampurna Dievakuasi dari Kebun Sawit
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026 10:24 WIB
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Seekor orang utan jantan dewasa bernama Sampurna ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di kawasan perkebunan sawit Desa Laman Satong, Kalimantan Barat. Satwa yang dilindungi tersebut diduga mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan di sekitar habitatnya.
Sampurna ditemukan warga pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 06.00 WIB. Melihat kondisi satwa yang sangat lemah, warga kemudian melaporkannya kepada petugas konservasi untuk mendapatkan penanganan.
Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).
Staf SKW I Ketapang BKSDA Kalbar, Sarbandi, mengatakan kondisi Sampurna sudah lemah ketika pertama kali ditemukan. Petugas kemudian bergerak ke lokasi untuk memastikan kondisi satwa sekaligus melakukan proses penyelamatan.
“Pagi tadi kami menerima informasi masyarakat mengenai orang utan sekitar perkebunan, lalu langsung mengecek lokasi dan menemukannya lemas,” ujar Sarbandi dalam keterangan pers yang diterima RRI, Senin (31/8/2026).
Kuatnya asap di sekitar lokasi menjadi perhatian tim saat proses evakuasi. Kebakaran yang terjadi di sekitar habitat orang utan diduga membuat Sampurna keluar dari kawasan hutan dan bergerak menuju area perkebunan untuk mencari tempat yang lebih aman.
Saat petugas tiba, asap masih terlihat cukup pekat. Kondisi tersebut memperkuat dugaan sementara bahwa gangguan pernapasan yang dialami Sampurna berkaitan dengan paparan asap karhutla.
Untuk menghindari risiko selama proses penyelamatan, tim melakukan pembiusan terhadap Sampurna. Setelah berhasil dievakuasi, dokter hewan dari YIARI memberikan penanganan medis berupa oksigen dan infus.
“Dokter memberikan oksigen dan infus karena Sampurna mengalami gangguan pernapasan, sementara pemeriksaan awal tidak menemukan luka terbuka maupun luka bakar,” kata Sarbandi.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak terdapat luka bakar pada tubuh Sampurna. Tim konservasi karena itu masih mendalami kondisi kesehatan satwa tersebut, termasuk dampak yang mungkin ditimbulkan akibat menghirup asap dalam konsentrasi tinggi.
Dokter hewan YIARI, Komara, menjelaskan asap kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai partikel serta zat berbahaya yang dapat masuk ke dalam sistem pernapasan. Dalam kondisi paparan berat, asap dapat mengganggu fungsi paru-paru dan mengurangi pasokan oksigen ke tubuh.
Menurutnya, paparan asap dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko hipoksia atau kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen.
“Kami masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap kondisi kesehatan Sampurna setelah terpapar asap,” ujar Komara.
Tim gabungan kini terus memantau kondisi Sampurna dan melakukan pemeriksaan lanjutan. Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal sekaligus mengetahui secara lebih pasti dampak karhutla terhadap kesehatan orang utan tersebut.
- Penulis: Bobby Suryo




