Trump Desak Israel Ampuni Netanyahu dari Kasus Korupsi: Sebut sebagai ‘Perburuan Penyihir’
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month Senin, 30 Jun 2025 11:57 WIB
- visibility 120
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan kontroversial dengan menyerukan kepada pemerintah Israel agar menghentikan proses hukum terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump meminta agar Netanyahu diberi pengampunan atas kasus korupsi yang tengah dihadapinya.
Trump menggambarkan dakwaan yang menjerat Netanyahu sebagai bentuk “witch hunt” atau perburuan politik tanpa dasar, serupa dengan tuduhan yang selama ini ia alamatkan terhadap kasus hukum yang membelit dirinya di Amerika.
“Pengadilan harus menghentikan proses ini sekarang juga atau memberikan pengampunan kepada seorang Pahlawan Besar yang telah memberikan begitu banyak untuk Israel,” tulis Trump.
Netanyahu, yang sedang menjalani proses pengadilan sejak 2020 atas tiga kasus dugaan korupsi, telah berulang kali menyatakan dirinya tidak bersalah. Sidang terbaru yang berlangsung di Tel Aviv sejak awal Juni 2025 diperkirakan masih akan berjalan hingga tahun depan, mengingat kompleksitas perkara dan durasi pemeriksaan silang.
Terkait permintaan pengampunan, Presiden Israel Isaac Herzog menyatakan bahwa opsi grasi belum menjadi topik pembahasan resmi sejauh ini. Menurut laporan media setempat, Herzog juga belum menerima permintaan formal terkait pemberian grasi kepada Netanyahu.
“Belum ada permintaan yang diajukan, dan isu ini tidak sedang dibahas,” kata Herzog seperti dikutip oleh media Israel.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat telah lama menjadi sekutu penting bagi Israel, dan menurutnya, kini saatnya Negeri Paman Sam menunjukkan dukungan nyata untuk Netanyahu, yang ia sebut sebagai sahabat dan pemimpin tangguh.
Sementara itu, tim hukum Netanyahu yang dipimpin oleh Amit Hadad telah mengajukan permohonan penundaan kesaksian perdana menteri dalam persidangan mendatang.
Pengacara Netanyahu beralasan bahwa situasi geopolitik yang memanas, termasuk konflik singkat dengan Iran dan pertempuran yang masih berlangsung di Gaza, membutuhkan perhatian penuh dari kepala pemerintahan.
“Perdana menteri perlu memusatkan energi dan waktunya untuk menangani isu-isu nasional dan keamanan yang sedang genting,” tulis permohonan tersebut.
Menanggapi dukungan Trump, Netanyahu menyampaikan apresiasi melalui media sosial X (dulu Twitter), seraya menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kerja sama strategis.
“Saya berterima kasih atas dukungan Anda, Presiden Trump. Kita akan terus bekerja sama untuk menghadapi ancaman bersama, membebaskan para sandera, dan memperluas lingkaran perdamaian,” tulis Netanyahu.
- Penulis: Bobby Suryo



