Konferda–Konfercab Serempak Jadi Penegasan Konsolidasi dan Ketertiban Organisasi PDIP di Tengah Dinamika Politik Nasional
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month Kamis, 18 Des 2025
- visibility 65
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan yang berlangsung serentak di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dinilai memiliki makna politik yang lebih luas daripada sekadar agenda internal partai. Kegiatan tersebut dipandang sebagai penegasan soliditas, disiplin organisasi, serta kesiapan PDIP merespons perubahan peta politik nasional yang semakin cair dan dinamis.
Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, menilai langkah konsolidasi serempak ini mencerminkan upaya PDIP memperkuat kendali struktural sekaligus memastikan keseragaman arah gerak organisasi dari pusat hingga daerah. Dari sudut pandang komunikasi politik, forum tersebut menjadi simbol bahwa PDIP ingin seluruh jajaran partai berada dalam satu irama ideologis dan organisatoris.
“Konferda dan Konfercab yang digelar bersamaan menunjukkan bahwa PDIP bukan kumpulan struktur daerah yang berjalan sendiri-sendiri. Ini satu organisasi yang solid, tertib, dan berlandaskan disiplin ideologis,” ujar Surokim, Rabu (17/12).
Ia menilai, penekanan pada kedisiplinan dan soliditas internal menjadi semakin krusial di tengah situasi politik nasional yang bergerak cepat, preferensi pemilih yang terfragmentasi, serta kompetisi antarpartai yang kian ketat. Dalam kondisi seperti ini, partai yang lemah secara internal berpotensi kehilangan konsistensi dan daya tahan politik.
Lebih lanjut, Surokim melihat konsolidasi serentak ini sebagai bentuk kesiapan PDIP menghadapi tantangan eksternal, mulai dari dinamika elektoral, pergeseran perilaku pemilih yang semakin rasional, hingga pengaruh politik digital yang mengubah pola komunikasi partai dengan masyarakat.
Terkait dinamika internal, Surokim mengakui bahwa forum konferensi berpotensi memunculkan perbedaan kepentingan antarkader, khususnya dalam proses regenerasi dan pengisian posisi strategis di tingkat daerah. Namun, menurutnya, hal tersebut merupakan dinamika wajar dalam organisasi politik besar.
“Yang diuji bukan ada atau tidaknya konflik, tetapi bagaimana konflik itu dikelola secara dewasa melalui mekanisme organisasi yang disepakati bersama,” ujarnya.
Menurut Surokim, struktur komando yang jelas serta budaya organisasi yang menempatkan keputusan kolektif di atas kepentingan pribadi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas internal. Kesadaran kader terhadap kepentingan partai jangka panjang dinilai mampu memperkuat soliditas secara berkelanjutan.
Ia juga menyoroti Konferensi Cabang sebagai ruang demokrasi internal yang penting. Demokrasi internal, kata Surokim, tidak selalu identik dengan kontestasi terbuka, melainkan tercermin dari transparansi proses, akuntabilitas keputusan, serta kesiapan kader menerima hasil secara lapang dada.
“Demokrasi yang matang terlihat dari penghormatan terhadap proses dan keputusan organisasi, bukan semata dari perebutan jabatan,” jelasnya.
Dalam konteks Jawa Timur yang memiliki karakter politik plural dan inklusif, Surokim menekankan pentingnya PDIP memiliki narasi ideologis yang kuat sebagai identitas partai. Namun, narasi tersebut perlu disampaikan secara kontekstual dan peka terhadap keragaman sosial serta kebutuhan masyarakat lokal.
“Komunikasi politik harus membumi dan empatik. Ideologi harus diterjemahkan dalam bahasa yang dipahami publik dan diwujudkan dalam kebijakan serta tindakan nyata,” katanya.
Sementara itu, pengamat politik Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi, memandang Konferda dan Konfercab serentak sebagai penanda bahwa PDIP tengah memasuki babak baru konsolidasi dan perjuangan politik. Menurutnya, agenda ini menunjukkan upaya partai menegaskan kembali politik berbasis ideologi di tengah menguatnya pragmatisme dan politik jangka pendek.
“PDIP ingin menampilkan alternatif terhadap politik transaksional dan tanpa keberpihakan. Konsolidasi ini memperlihatkan tekad partai untuk menghidupkan kembali politik ideologis yang tetap adaptif,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, penguatan nilai-nilai ajaran Bung Karno sebagai fondasi ideologi partai menjadi relevan di tengah perubahan sosial dan teknologi, terutama dalam menjangkau generasi muda dan Gen Z. Tantangan ke depan, menurutnya, adalah menerjemahkan ideologi tersebut ke dalam bahasa, medium, dan program yang sesuai dengan karakter pemilih baru.
Airlangga juga menekankan pentingnya kesinambungan kepemimpinan yang berjalan beriringan dengan regenerasi kader. Kesinambungan menjaga stabilitas ideologis, sementara regenerasi membuka ruang pembaruan dan perluasan basis dukungan.
“Kepemimpinan yang berintegritas, berakar pada ideologi, dan dekat dengan persoalan rakyat akan menentukan kemampuan partai menghadapi perubahan zaman,” ujarnya.
Kedua pengamat sepakat bahwa tantangan utama PDIP ke depan bukan hanya persaingan antarpartai, melainkan perubahan perilaku pemilih yang semakin rasional dan fleksibel. Pemilih kini lebih menimbang kinerja, konsistensi kebijakan, serta dampak nyata yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam situasi tersebut, keselarasan antara nilai ideologis, program kerja, dan kinerja konkret menjadi penentu kekuatan partai. Dengan disiplin organisasi, soliditas internal, serta kemampuan beradaptasi terhadap dinamika sosial-politik, PDI Perjuangan dinilai memiliki modal kuat untuk tetap relevan dan berkelanjutan di tengah tantangan politik masa depan.
- Penulis: Bobby Suryo
