Menjelang HUT RI dan Pilkades: Bahasa Satir dan Sarkasme Bermunculan di Spanduk
- account_circle Hasanah 011
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026 19:06 WIB
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto . Dok . Asp
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Semuanya itu sebenarnya tidak ada tujuan negatif terhadap siapapun, hanya ingin menyadarkan pemangku kebijakan, baik yang sedang berkuasa maupun yang akan berkuasa nantinya. Agar berlaku adil bagi semuanya, baik yang memilih maupun yang tidak. Karena semua juga warganya. Dan sindiran itu tidak terlihat ada niatan untuk menyakiti.
Apalagi Desa Karanglayung sebentar lagi akan menggelar pilkades, yang pelaksanaan pencoblosannya tinggal menghitung hari, yang akan di digelar pada Rabu 28/10-2026 nanti.
Ada lagi bahasa satir lainnya, hanya satu kata, tetapi dua makna. Dan ini merupakan bahasa satir yang paling berkelas, seperti.
“Pejabatnya kerja bercanda “gaji serius”. Rakyatnya kerja serius “gaji bercanda”. Pejabatnya “kicau mania” Rakyatnya “kicau mania”,
Bahasa satir tersebut ngebandingin dua kelompok buat nyindir sistem dengan menggunakan paralelisme biar gampang diingat dan bikin ketawa getir. Targetnya bukan siapa siapa hanya nyindir ketimpangan gaji & prioritas. Dibungkus lucu atau diplesetin. “Lucu di depan, nusuk di belakang”.
Untuk hal “Pejabat kicau mania”, merupakan satir plesetan nyindir pejabat. Pejabat “kicau mania”, pejabat yang suka foya-foya. Sedangkan rakyatnya “Kicau mania”. Arti kata, “rakyat teriak-teriak demo ataupun protes di sosmed pun nggak pernah didengar (ngedadak tuli)”.
- Penulis: Hasanah 011




