Mahasiswa Autis Ini Bikin Haru! Hasil Pameran Lukisannya untuk Donasi Bencana Sumatera
- account_circle Friska Putri Aryananta
- calendar_month 08 Februari 2026, 19:00 WIB
- visibility 56
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Hasanah.id – Perayaan Tahun Baru Imlek di Menara Astra, Jakarta, tahun ini menghadirkan kisah seorang mahasiswa autis yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyentuh hati. Oliver (Ollie) Wihardja, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya sekaligus berbagi.
Lewat delapan lukisan bertema budaya dan keseharian, Ollie menghadirkan memori, tradisi, dan kehangatan keluarga dalam sapuan warna yang hidup. Lima di antaranya bahkan telah menemukan pemilik baru, dan separuh hasil penjualannya akan digunakan untuk membantu korban bencana di Sumatera Utara.
Menghidupkan Tradisi Lewat Kanvas
Dalam salah satu karyanya, pengunjung dapat melihat seorang perempuan muda tengah mencoba cheongsam kuning keemasan dengan sulaman teratai merah muda. Di karya lain, suasana barbershop di Chinatown tergambar ramai, penuh warna, sekaligus intim.
Bagi Ollie, pilihan objek tersebut bukan tanpa alasan.
“Bagi Oliver, cheongsam memiliki makna yang sangat personal,” ujar Sinhwi Halim, ibunda Oliver, kepada para pengunjung pameran.
“Mendiang neneknya gemar mengenakan cheongsam ke mana pun-ke jamuan makan malam, pesta pernikahan, bahkan ke sesi karaoke mingguan bersama teman-temannya,” imbuh Sinhwi.
Memori tentang sang nenek kemudian berubah menjadi bentuk visual yang kuat. Warna, motif, dan suasana diolah Ollie menjadi cerita yang bisa dirasakan siapa pun yang berdiri di hadapan lukisannya.
Perjalanan Mahasiswa Autis dari Terapi hingga Panggung Dunia
Oliver didiagnosis berada dalam spektrum autisme saat usianya baru tiga setengah tahun. Melukis mulai ia tekuni sejak umur enam tahun sebagai bagian dari terapi.
Bakatnya berkembang pesat. Pada 2017, ia meraih juara pertama ANCA World Autism Festival di Vancouver, Kanada. Sejak itu, namanya rutin muncul dalam berbagai agenda seni bergengsi seperti Art Jakarta. Bahkan pada Desember 2025 lalu, ia sukses menggelar pameran tunggal di Katedral Jakarta.
Kini, Ollie adalah seorang mahasiswa autis yang menempuh pendidikan di kampus ternama di Serpong, Banten, dengan fokus pada jurusan Video Animasi.
Delapan Karya, Lima Terjual
Pameran IMMERSION Art Exhibition menampilkan total delapan karya Ollie yang lekat dengan nuansa Imlek. Selain Golden Threads dan Look Good, Feel Good, ada pula lukisan tentang toko obat di Glodok, berbagi angpao, bermain mahyong, makan dim sum bersama keluarga, ritual lo hei, hingga tarian barongsai.
Respons publik sangat positif. Dari seluruh karya yang dipajang, lima sudah terjual.
Meski identitas kolektor dan nilai transaksi dirahasiakan, keluarga memastikan sebagian hasilnya akan menjadi bantuan nyata.
“Kami bekerja sama dengan KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) yang menargetkan pembangunan seribu rumah di sana. Nilai pembangunan setiap rumah sekitar Rp 60 juta,” jelasnya.
Dana tersebut akan disalurkan untuk pembangunan rumah bagi korban bencana di Sibolga, Sumatera Utara.
Konsisten Berdonasi Lewat Seni
Bagi Ollie, melukis bukan sekadar tentang estetika. Ia menjadikan karya sebagai jembatan kepedulian sosial. Dalam berbagai kesempatan, hasil penjualan lukisannya telah disumbangkan ke banyak lembaga, seperti Yayasan MPATI, SLB Kyriakon, Yayasan Rasa Dharma Semarang, Liberty Society Foundation, YPAC, hingga Community Chest of Singapore melalui UOB Art Auction.
Pada Januari 2023, salah satu lukisannya bahkan terjual seharga Rp 1 miliar dalam acara amal untuk Special Olympics Indonesia dan seluruh hasilnya didonasikan.
Melukis dengan Insting dan Kenangan
Menurut Felix Priscillia Oetomo, Brand Space Manager Immersion by Lexus, kekuatan karya Oliver terletak pada kejujurannya. Ia membiarkan ingatan dan momen sederhana memandu proses kreatifnya. Budaya hadir bukan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi melekat dalam rutinitas.
Seorang pengunjung, Aulia Ramadhiny, ikut merasakan kesan tersebut setelah melihat langsung beberapa karya favoritnya.
“Detail dan polanya sangat padu, dengan permainan warna yang berani,” ujar sarjana Manajemen Transportasi yang juga gemar melukis tersebut.
Bukti Bahwa Keterbatasan Bukan Akhir
Kisah mahasiswa autis ini menjadi pengingat bahwa seni dapat melampaui batas apa pun. Dari terapi masa kecil hingga ruang pamer prestisius, dari kanvas menuju aksi kemanusiaan Ollie menunjukkan bahwa bakat yang dirawat dengan cinta mampu memberi dampak luas.
Pameran ini bukan hanya tentang lukisan. Ini tentang harapan.
Sumber Foto: Detik
- Penulis: Friska Putri Aryananta
