
Setelah lulus, ia mendapati keadaan bahwa anak-anak disabilitas di daerahnya banyak yang tidak bersekolah karena belum terdapat banyak SLB. Bila ingin pergi sekolah, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh ke daerah Padjajaran. Terlebih anak-anak disabilitas ini kebanyakan berasal dari keluarga yang kurang mampu.
“Saya sendiri tunanetra, jadi saya tahu rasanya. Anak yang punya kekurangan itu harus ditopang oleh ilmu demi masa depannya, karena mereka memiliki hak yang sama dengan orang biasa. Alhamdulillah di tahun 2003 saya bareng almarhum kakak saya mendirikan SLB ABCD ini, bekas rumah saya, jadi tempatnya seadanya,” ujar Tatang.
ABCD adalah istilah untuk menandakan jenis-jenis disabilitas yaitu A untuk anak tunanetra, B untuk anak tunarungu, C untuk anak yang memiliki kemampuan intelegensi di bawah rata-rata dan keterbelakangan mental (tunagrahita) dan D untuk anak tunadaksa. Saat ini, SLB ABCD memiliki 43 anak didik mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA. Kebanyakan anak yang bersekolah di sini merupakan penyandang tunagrahita.