Polda Metro Jaya Ungkap Pemalsuan Sertifikat Vaksin Yang Terkoneksi ke Aplikasi PeduliLindungi - Hasanah

Polda Metro Jaya Ungkap Pemalsuan Sertifikat Vaksin Yang Terkoneksi ke Aplikasi PeduliLindungi

Polda Metro Jaya ungkap pemalsuan Sertifikat Vaksin Palsu.

Hasanah.id – Jakarta. Unit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya berhasil ungkap kasus Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, menjelaskan, modus yang dilakukan Dua pelaku berinisial FH dan HH ini adalah menjual sertifikat vaksin covid-19  bahkan bisa menghubungkan langsung data masyarakat ke aplikasi PeduliLindungi meski belum divaksin.

“Jadi kedua tersangka FH dan HH ini memposting di medsos, Facebook bahwa ia bisa membuat sertifikat vaksin, di akun Facebook atas nama tri putra heru, dengan postingannya rekber agit only sistem cek web cair di grup fb dengan nama OFFICIAL SIXTEEN MARKET INDONESIA, dengan menjual sertifikat vaksin palsu seharga Rp 370.000,” jelas Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, Jumat, 3/09/2021.

Kapolda berharap agar masyarakat tidak melakukan cara-cara instan, untuk menghindari vaksin Covid-19.

“Pemerintah telah mencanangkan vaksin itu untuk masyarakat, untuk mencegah penyebaran Covid-19, ini salah satu ikhtiarnya. Sehingga tidak perlu takut divaksin,” jelasnya.

Kapolda Metro Jaya akan terus mengajak masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi Covid-19.

“Kami akan terus mengajak masyarakat agar ikut vaksinasi Covid-19, demi masyarakat Indonesia terbebas dari pandemi Covid-19,” jelasnya.

Terpisah Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus menjelaskan bahwa dua tersangka pemalsuan sertifikat vaksin, mempunyai peran berbeda.

“Peran FH dan HH berbeda, FH sebagai marketing di Facebook yang menawarkan jasa membuat sertifikat vaksin tanpa harus divaksin, sedangkan HH ini operator yang memasukan data masyarakat ke aplikasi PeduliLindungi,” jelasnya.

Kombes Pol Yusri Yunus menambahkan, kedua tersangka akan dijerat pasal 30 jo pasal 46 dan atau pasal 32 jo pasal 48 ayat 1 jo pasal 35 jo pasal 51 UU nomor 19 tahun 2016 ttg perubahan UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE.

“Ancaman hukuman keduanya diatas 10 tahun penjara, ” jelasnya.

Dari kedua tersangka, diamankan juga barang bukti berupa satu lembar tangkapan layar facebook, dua lembar tangkapan layar aplikasi pedulilindungi, dualembar sertifikat vaksin, satu buah hp redmi, satu buah hp oppo, satu buah laptop lennovo, dua buah buku tabungan, dua buah atm bca, satu hp merk 12 pro max, satu buah hp samsung type 51 warna hitam,satu buah atm bri dan satu buah atm jenius btn.

Sementara itu saat dikonfirmasi kembali terkait pengungkapan kasus sertifikat vaksin palsu, melalui Kanit Cybercrime Polda Metro Jaya, Kompol I Made Redi Hartana melalui ponselnya, menjelaskan bahwa pemalsuan sertifikat vaksin ini dan bisa langsung terhubung ke aplikasi PeduliLindungi.

“Tersangka menjual sertifikat vaksin di Facebook Rp 370.000, dan ini diminati masyarakat selama tiga bulan terakhir,” jelasnya.

Ia menambahkan, tersangka HH, sebagai otak dari kasus ini, mempunyai peran penting yakni menghubungkan data ke aplikasi PeduliLindungi.

“HH ini pekerjaannya staf di kelurahan kapuk muara, dia mengkoneksikan data pemohon Sertifikat Vaksin melalui akses data di kelurahan tersebut, yang bisa langsung muncul di aplikasi PCARE,” jelasnya.

Dari pengakuannya, sudah terjual sebanyak 90 sertifikat vaksin palsu. Bahkan ada yang membeli sertifikat vaksin palsu dengan membayar seharga Rp 500.000.

“Kami juga telusuri masyarakat yang membeli sertifikat vaksin palsu, pengakuannya membeli seharga 500 ribu kepada HH ini,” pungkasnya.

Total
1
Shares
Related Posts