Salah Satu Tersangka Pengeroyokan TNI Oleh Anggota Moge di Bukittinggi Masih Dibawah Umur - Hasanah

Salah Satu Tersangka Pengeroyokan TNI Oleh Anggota Moge di Bukittinggi Masih Dibawah Umur

Konferensi pers kasus pengeroyokan prajurit TNI di Bukittinggi oleh anggota klub moge Harley-Davidson

Hasanah.id – Dalam penyelidikan kasus pengeroyokan prajurit TNI saat touring di Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Dari lima anggota Harley Owners Group Siliwangi Bandung Chapter (HOG SBC) yang ditetapkan sebagai tersangka. Satu diantaranya masih dibawah umur dengan usia 16 tahun. Selain itu polisi menemukan lima moge yang tidak memiliki surat-surat resmi, tidak memiliki STNK dan diduga bodong.

“Dalam penyidikan, diketahui ada sejumlah moge yang dikendarai rombongan HOG SBC yang diduga berstatus bodong. Motor-motor tersebut tak dilengkapi surat-surat resmi, seperti STNK,” ujar pejabat Humas HOG SBC Epriyanto, Sabtu (7/11/2020). (seperti dilansir detikcom)

Kapolres Bukittinggi AKBP Dody Prawiranegara mengatakan ada lima moge milik Harley-Davidson Owner Grup (HOG) Siliwangi Bandung yang terseret kasus pengeroyokan TNI di Bukittinggi dicurigai tanpa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) alias bodong.

“Lima motor tersebut, termasuk 19 moge lainnya milik anggota HOG Siliwangi Bandung, masih ditahan di Polres Bukittinggi. Status kendaraan saat ini, dari kuasa hukum menitipkan ke kepolisian. Kecuali ada lima kendaraan yang dicurigai tidak dilengkapi STNK. Jadi akan kami lakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata Dody kepada wartawan dalam keterangan pers di Mapolres.

Polisi memaparkan peran masing-masing tersangka kasus pengeroyokan dan penganiayaan prajurit TNI yang dilakukan anggota klub Moge Harley-Davidson Owner Group (HOG) Siliwangi Bandung Chapter di Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Satu tersangka di antaranya merupakan anak baru gede (ABG).

“Awalnya data kelahiran BS ini 18 tahun. Dari dari akta kelahiran ternyata masih 16 tahun,” kata Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Stefanus Satake Bayu di Mapolres Bukittinggi.

Satake menjelaskan pihaknya masih mendalami fakta BS yang telah mengantongi Surat Izin Mengemudi (SIM) di usia yang belum memenuhi syarat. Tapi polisi mengantongi keterangan BS alumni sekolah balap di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“BS punya kemampuan mengemudi moge cukup mahir karena pernah sekolah balap di Sentul,” ucap Satake.

Polisi menjelaskan BS akan menghadapi proses hukum kategori anak berhadapan dengan hukum (ABH), yang proses hukumnya akan berbeda dengan para tersangka kelompok umur dewasa. Tersangka BS mengajukan penangguhan penahanan. Namun polisi menolak.

“Tersangka memiliki hak penangguhan penahanan. Dalam kasus ini, ada tersangka BS yang mengajukan penangguhan penahanan. tapi kami dari kepolisian tidak (bisa) memberikan hak tersebut,” kata Dody dalam keterangan pers di Mapolres Bukittinggi.

Sementara itu, Satake menyebutkan alasan penangguhan penahanan ditolak adalah polisi ingin proses hukum BS cepat selesai, mengingat usianya yang di bawah umur.

“Biar proses hukumnya cepat. Kita kan ingin masalah ini bisa segera masuk pengadilan, biar ada kejelasan hukum,” pungkas Satake.

Total
0
Shares
Related Posts