Mengapa Hilal harus 3 Derajat? Ini Penjelasan Ilmiah Penentuan Awal Bulan Puasa
- account_circle Rehan Oktra Halim
- calendar_month Selasa, 17 Feb 2026 20:08 WIB
- visibility 618
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Acuan ini sering dikenal sebagai kriteria MABIMS yang menggantikan kriteria lama, di mana sebelumnya tinggi hilal yang dianggap cukup hanya 2 derajat dengan sudut elongsi 3 derajat saja. Perubahan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh kajian astronomi dan pengalaman observasi selama puluhan tahun.
Selain itu, terhadap beberapa alasan mengapa hilal 3 derajat kini menjadi acuan masuknya bulan baru dalam kalender Hijriah.
Kendala Cahaya Syafaq
Salah satu alasan utama dibalik penetapan ketinggian hilal 3 derajat adalah sulitnya mengamati hilal yang disebabkan oleh cahaya syafaq. Cahaya syafaq adalah pendar cahaya yang muncul setelah matahari terbenam.
Pada saat hilal masih rendah di bawah 3 derajat, pendar cahaya ini sangat dominan sehingga mata manusia, bahkan dengan alat bantu optik, sering kesulitan membedakan sabit tipis hilal dari langit senja. Posisi hilal yang terlalu dekat dengan garis horizon juga mempengaruhi kontras visual dan refleksi cahaya di atmosfer sehingga hilal sulit diamati.
Visibilitas Fisik dan Astronomi
Hilal yang terletak di bawah ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat akan membentuk bulan sabit yang belum cukup terlihat dengan jelas. Berdasarkan astronomi, sabit yang baru lahir akan terlihat sangat tipis dan dekat dengan matahari, sehingga bayangan permukaan bulan belum cukup nyata untuk memberikan kontras terhadap cahaya senja.
- Penulis: Rehan Oktra Halim




