5 Hal yang Selama Ini Dianggap Aset, Ternyata Bukan
- account_circle Rehan Oktra Halim
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hal ini disebabkan karena kendaraan pribadi seringkali mengurai nilai kekayaan seiring dengan berjalannya waktu. Setiap orang tahu bahwa begitu mobil keluar dari dealer, maka harganya akan langsung turun. Peristiwa ini sering disebut sebagai depresiasi. Selain itu, kendaraan pribadi juga akan terus membutuhkan biaya, mulai dari bensin, perawatan, pajak, asuransi, dan sebagainya.
Maka dari itu, meski mobil atau motor memiliki nilai jual kembali, namun bukan berarti kendaraan pribadi dapat menghasilkan keuntungan. Lebih tepat disebut kewajiban konsumtif yang bernilai jual, bukan aset.
2. Barang Mewah
Barang-barang mewah seperti pakaian dari brand terkenal, gadget baru, hingga semua yang dianggap mewah sering dianggap sebagai aset. Padahal, barang-barang mewah tersebut jarang mengalami apresiasi nilai, bahkan harga jual kembalinya bisa turun drastis jika sudah digunakan.
Selain itu, mengoleksi barang mewah sebagai aset tidak akan menghasilkan pemasukan, selain menjualnya dengan harga yang tak sama ketika membelinya. Barang mewah memang bernilai, namun tidak selalu bernilai dari sisi keuangan. Barang-barang mewah lebih termasuk ke dalam kategori konsumsi gaya hidup.
3. Rumah Tempat Tinggal
Bagi banyak orang, rumah adalah aset terbesar yang mereka miliki. Nilainya yang termasuk dalam property berharga, seringkali dimasukkan dalam perhitungan kekayaan bersih. Selain itu, membeli rumah dengan cicilan KPR sering dianggap sebagai bentuk tabungan paksa.
- Penulis: Rehan Oktra Halim



