Breaking News
Trending Tags

Populasi Menyusut, Jumlah Tentara Korea Selatan Turun Tajam dalam 6 Tahun

  • account_circle Bobby Suryo
  • calendar_month Senin, 11 Agt 2025 08:37 WIB
  • visibility 139
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id — Populasi militer Korea Selatan mengalami penurunan drastis hingga 20 persen dalam enam tahun terakhir. Berdasarkan laporan Kementerian Pertahanan, jumlah tentara aktif saat ini tinggal sekitar 450 ribu personel, turun signifikan dari 563 ribu pada akhir 2010-an.

Penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya jumlah laki-laki usia wajib militer akibat krisis demografi yang melanda Negeri Ginseng. Dalam periode 2019 hingga 2025, populasi laki-laki usia 20 tahun—kelompok usia utama untuk wajib militer—turun hingga 30 persen, dari sekitar 330 ribu menjadi hanya 230 ribu orang.

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesiapan operasional militer Korea Selatan, yang sangat bergantung pada sistem wajib militer untuk mempertahankan kekuatan pasukan.

Kementerian Pertahanan menyebut saat ini terdapat kekurangan sekitar 50 ribu prajurit dari jumlah ideal yang dibutuhkan untuk mempertahankan kesiapan pertahanan nasional.

Tren penurunan jumlah pasukan ini bukan hal baru. Sejak awal 2000-an, militer Korea Selatan secara bertahap mengalami penyusutan dari total kekuatan sekitar 690 ribu personel. Namun, penurunan paling tajam terjadi sejak akhir dekade 2010-an hingga kini.

Situasi ini semakin kontras jika dibandingkan dengan Korea Utara, yang menurut data tahun 2022 memiliki sekitar 1,2 juta personel militer aktif—lebih dari dua kali lipat kekuatan militer Korea Selatan.

Meski menghadapi krisis demografi, Korea Selatan tetap mempertahankan anggaran pertahanan yang besar. Tahun ini, pemerintah mengalokasikan 61 triliun won (sekitar Rp713 triliun), jauh melampaui estimasi anggaran militer Korea Utara.

Korea Selatan saat ini menghadapi tantangan demografi serius. Tingkat kesuburan nasional menjadi yang terendah di dunia, dengan rata-rata hanya 0,75 kelahiran per perempuan pada 2024. Sementara itu, populasi nasional yang sempat mencapai puncak 51,8 juta jiwa pada 2020 diperkirakan akan turun drastis menjadi 36,2 juta pada 2072.

Kementerian Pertahanan kini tengah mengevaluasi berbagai opsi, termasuk kemungkinan modernisasi sistem pertahanan dan peningkatan peran teknologi untuk mengimbangi berkurangnya jumlah personel militer.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Bobby Suryo
expand_less