Masjid Agung Sumedang Jadi Pelopor Masjid Inklusif, Bupati Apresiasi Layanan untuk Jemaah Tuli
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month 09 Februari 2026, 10:51 WIB
- visibility 708
- comment 0 komentar
- print Cetak

Masjid Agung Sumedang Jadi Pelopor Masjid Inklusif, Bupati Apresiasi Layanan untuk Jemaah Tuli
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Komitmen menghadirkan rumah ibadah yang terbuka bagi semua kalangan terus ditunjukkan Masjid Agung Sumedang. Sejak Desember 2024, masjid kebanggaan warga Sumedang ini secara rutin menyediakan layanan juru bahasa isyarat serta shaf khusus bagi jemaah tuli pada setiap pelaksanaan Salat Jumat. Langkah ini dilakukan agar jemaah tuli dapat mengikuti dan memahami isi khutbah dengan lebih baik.
Inisiatif tersebut mendapat apresiasi luas, termasuk dari Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir. Ia menilai upaya Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Sumedang sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kelompok difabel serta bentuk komitmen menghadirkan kesetaraan dalam beribadah.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada DKM Masjid Agung Sumedang yang konsisten menjadikan masjid ini ramah difabel dan inklusif,” ujar Bupati Dony, Minggu (8/2/2026).
Menurutnya, keberadaan pemandu bahasa isyarat saat khutbah Jumat menjadi inovasi penting dalam pelayanan keagamaan. Dengan adanya penerjemah, jemaah tuli tidak lagi hanya hadir secara fisik, tetapi juga dapat memahami pesan-pesan yang disampaikan khatib secara utuh.
“Dengan adanya pemandu isyarat, teman-teman tuli bisa mendapatkan pengetahuan keagamaan yang berdampak pada peningkatan iman dan takwa,” tambahnya.
Selain layanan penerjemah, aspek aksesibilitas fisik di lingkungan masjid juga dinilai telah disiapkan dengan baik. Berbagai fasilitas pendukung dihadirkan untuk memastikan seluruh jemaah, termasuk penyandang disabilitas, merasa nyaman dan aman saat beribadah.
Langkah Masjid Agung Sumedang ini dinilai bukan sekadar penyediaan fasilitas tambahan, melainkan perubahan paradigma dalam pengelolaan rumah ibadah. Masjid tidak hanya menjadi tempat menunaikan salat, tetapi juga ruang bersama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan kepedulian sosial.
Bupati Dony berharap inovasi tersebut dapat terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Ia juga mendorong agar Masjid Agung Sumedang menjadi contoh bagi masjid-masjid lain, baik di Sumedang maupun di daerah lain, dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang inklusif.
“Semua orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pengetahuan tentang keagamaan. Masjid harus menjadi tempat yang mempersatukan, bukan membatasi,” tegasnya.
Dengan konsistensi layanan sejak akhir 2024, Masjid Agung Sumedang kini semakin dikenal sebagai pelopor masjid inklusif. Keberpihakan terhadap kelompok difabel, khususnya jemaah tuli, menjadi bukti bahwa semangat rahmatan lil alamin dapat diwujudkan dalam langkah konkret yang memberi manfaat langsung bagi umat.
- Penulis: Bobby Suryo



