Baca Juga: Mengenang Masa Lalu, Kang Hasan Sahur Bersama Loper Koran
Ia menuturkan sekitar tahun 1985 hingga 2000-an menjadi puncak keramaian. Orang-orang, kata dia, berbondong-bondong mendatangi kawasan itu untuk mencari buku, koran, atau majalah.
“Dari anak SD, SMP, SMA, kuliah, atau yang kerja dulu sering pada datang ke sini selain Palasari,” kata Mahmud saat ditemui di lapaknya, Selasa, 23 Januari 2024.
Pada masa itu, Mahmud bisa mendapatkan keuntungan hingga 17 juta rupiah dalam waktu satu minggu hanya dengan berjualan buku, majalah, dan sejenisnya.
“Uang sebesar itu kalau waktu itu terbilang sangat besar, bisa beli apa aja yang diinginkan,” ucapnya.
Bahkan dia juga berhasil membiayai ketiga anaknya hingga lulus dari perguruan tinggi.
Baca Juga: Pria Tanpa Identitas Gantung Diri
Ketenaran Cikapundung lama-lama mulai pudar seiring berkembangnya teknologi. Konvergensi media juga turut menyurutkan daya beli di kawasan Cikapundung.
Kemudahan mencari informasi karena digitalisasi membuat tempat itu tak ramai seperti dulu. Mahmud merupakan salah satu pedagang yang menjadi saksi perubahan tersebut.