Breaking News
Trending Tags

Perpres 111/2025: Presiden Prabowo Subianto tetapkan langkah nirmiliter lawan ancaman LGBT

  • account_circle khasanah
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026 04:02 WIB
  • visibility 137
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, Hasanah.id – Efatha Filomeno Borromeu Duarte menyatakan kebijakan pemerintah baru perlu dipahami sebagai upaya menjaga ketahanan kognitif bangsa.

Efatha, dosen Ilmu Politik Universitas Udayana dan pendiri Malleum Iustitiae Institute, menegaskan perlunya fokus strategis pada ketahanan kognitif dalam menghadapi dinamika informasi global.

Menurutnya, pemikiran tentang ketahanan kognitif harus dimasukkan ke dalam kerangka keamanan komprehensif dan strategi nasional jangka panjang.

Ia menolak pandangan yang melihat langkah pemerintah sebagai tindakan represif semata.

Baginya, kebijakan tersebut lebih tepat dipahami sebagai representasi kehadiran negara yang menjaga infrastruktur kognitif fundamental.

Efatha menambahkan bahwa apa yang dijalankan negara berfungsi sebagai early warning system terhadap gangguan nilai yang merongrong kohesi sosial secara bertahap.

Dalam pandangan Efatha, hubungan negara dan masyarakat akan sehat bila ancaman nonkonvensional ini direspons secara terpadu.

Ia menekankan bahwa upaya menahan gempuran informasi dan propaganda lintas batas adalah bagian dari upaya memperkuat ketahanan kognitif di tingkat nasional.

Efatha juga menyebutkan bahwa banyak negara maju menerapkan batasan normatif dalam kebijakan pertahanan nilai mereka.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

Avatar of khasanah

Penulis

jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.

expand_less