Burung Pipit Berjatuhan, Penyebab Pasti Masih Dicari

Burung Pipit berjatuhan
Ribuan burung pipit berjatuhan di Bali (Foto: Instagram/@bali.terkini)

Hasanah.id, Bali – Burung pipit berjatuhan tengah menjadi fenomena di jagat maya. Media sosial ramai membahas video burung-burung berbulu hitam yang ditemukan berjatuhan dan dalam keadaan basah.

Fenomena jatuhnya burung pipit tersebut diketahui terjadi di Bali, Bunda. Video viral tersebut diyakini berada di kawasan kuburan Banjar Sema, Desa Pering, Kabupaten Gianyar, Bali.

Jatuhnya burung pipit ternyata bukan baru kali ini saja terjadi. Selain di Bali, fenomena ini sempat terjadi di Sukabumi.

“Kejadian ini bukan yang pertama di Bali ataupun bukan pertama di Indonesia. Di Bali dalam lima tahun terakhir juga pernah ada kejadian di area Sanglah, Kota Denpasar, juga di Selemadeg, Kabupaten Tabanan. Juga di Sukabumi, Jawa Barat, bulan Juli tahun 2021,” kata Kepala Seksi Wilayah 2 BKSDA Bali Sulistyo Widodo dalam keterangan tertulis, Jumat (10/9/2021).

Tim dari BKSDA melakukan penyelidikan dan mengetahui perilaku masyarakat di sekitar Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Warga disebut menggunakan pestisida nonalami. Namun dugaan ini masih perlu dibuktikan lewat pemeriksaan bangkai burung pipit dengan pembedahan untuk mengetahui penyebab kematian.

“Jadi dugaan saya adalah burung-burung pipit tersebut keracunan dari pestisida tersebut,” tutur Prawono Meruanto, Kasubag Tata Usaha Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali.

Namun demikian, perubahan drastis iklim pun berperan dalam kematian massal hewan. Misalkan kasus matinya ikan koi di kolam terbuka saat hujan pertama kali turun atau matinya ribuan ikan dalam keramba akibat naiknya (up wheeling) endapan bahan kimia, atau cuaca panas dan kemudian tiba tiba turun hujan.

Hingga kini, BKSDA Bali melalui Resort Gianyar telah memeriksa lokasi koloni burung pipit mati tersebut di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Pemeriksaan dilakukan pagi hari sekitar pukul 09.00 Wita bersama Dinas Kesehatan Hewan Kabupaten Gianyar.

Dalam pemeriksaan lokasi tersebut, pihaknya juga mengambil sample bangkai dan kotoran burung untuk dibawa ke Laboratorium Kesehatan Hewan guna mencari tahu penyebab kejadian tersebut.

Saat mencari makan, kata dia, burung pipit pasti bergerombol dari ratusan sampai ribuan ekor. Ukuran burung yang kecil menyebabkan kecenderungan berkoloni dalam jumlah besar untuk mengurangi risiko terhadap predator.

Total
1
Shares
Related Posts