Iran Sindir Israel Usai Gencatan Senjata: Tak Berkutik Tanpa Dukungan AS
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month Minggu, 29 Jun 2025 14:27 WIB
- visibility 109
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap Israel dan Amerika Serikat pasca-gencatan senjata antara Teheran dan Tel Aviv yang berlangsung selama 12 hari sejak 13 Juni 2025. Dalam pernyataannya di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), Araghchi menyindir ketergantungan Israel terhadap dukungan militer Amerika Serikat.
“Bangsa Iran telah menunjukkan bahwa rezim Israel tidak memiliki pilihan lain selain mencari perlindungan dari ‘ayah’ mereka, yaitu Amerika Serikat, demi menghindari serangan rudal kami,” tulis Araghchi, Minggu (29/6).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul keterlibatan militer AS dalam konflik, terutama saat Washington melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan pada pekan lalu.
Sindiran Araghchi menyinggung eratnya hubungan strategis antara Israel dan AS, serta menggambarkan Israel sebagai pihak yang dinilai tak mampu bertahan tanpa dukungan eksternal. Dalam unggahan yang sama, Araghchi juga memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar berhenti melontarkan pernyataan yang dianggap menghina Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
“Jika Presiden Trump menginginkan kesepakatan dengan Iran, maka ia harus menunjukkan rasa hormat, bukan justru melontarkan cercaan kepada Pemimpin Tertinggi kami,” tulis Araghchi.
Ia menegaskan bahwa penghinaan terhadap Khamenei tak hanya melukai figur pemimpin, tetapi juga menyakiti perasaan jutaan rakyat Iran yang menghormatinya.
Dalam bagian akhir pernyataannya, Araghchi memberikan peringatan keras bahwa jika provokasi berlanjut, Iran tidak akan ragu untuk merespons secara tegas.
“Niat baik akan dibalas dengan niat baik, dan rasa hormat akan dibalas dengan rasa hormat. Namun jika kesalahan berlanjut, kami siap menunjukkan kekuatan sesungguhnya,” tulisnya.
Ketegangan ini terjadi tak lama setelah konflik Iran–Israel berakhir pada 24 Juni 2025 melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Namun, situasi pascaperang masih memanas akibat saling sindir antara para pemimpin.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, sebelumnya mengklaim bahwa Iran berhasil “mengalahkan” Israel dan memberi peringatan kepada AS. Klaim ini dibantah oleh Presiden Trump, yang menyebutnya sebagai “kebohongan besar” dan “konyol”.
Trump juga mengungkap bahwa ia menolak permintaan dari militer AS dan Israel untuk melakukan serangan langsung terhadap Khamenei, meskipun mengaku telah mengetahui lokasinya.
- Penulis: Bobby Suryo



