Fakta Mengejutkan! Meutya Hafid Sebut 80 Ribu Anak di Bawah 10 Tahun Sudah Terpapar Judi Online
- account_circle khasanah
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026 07:18 WIB
- visibility 425
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid diacara Indonesia.go.id Menyapa Medan: Gass Pol Tolak Judol di Medan Amplas, Rabu (13/5/26).(Dokumentasi Pemko Medan).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masalahnya, sebagian masyarakat belum memiliki literasi digital yang memadai untuk mengenali modus-modus tersebut. Akibatnya, banyak pengguna terjebak tanpa menyadari risiko besar yang mengintai di baliknya.
Bagi anak-anak, ancaman tersebut tentu jauh lebih berbahaya karena mereka belum mampu membedakan mana konten aman dan mana yang berpotensi merugikan.
Literasi Digital Jadi Benteng Masa Depan
Pemerintah kini mulai mendorong penguatan literasi digital nasional sebagai salah satu strategi utama menghadapi ancaman judi online. Edukasi dianggap penting agar masyarakat memiliki kemampuan memahami risiko di ruang digital.
Program literasi digital tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan pelajar. Tujuannya agar generasi muda Indonesia mampu menggunakan internet secara sehat, produktif, dan aman.
Sekolah diharapkan ikut berperan dalam memberikan edukasi mengenai keamanan digital dan bahaya perjudian online. Dengan begitu, anak-anak memiliki pemahaman sejak dini tentang risiko yang ada di internet.
Selain itu, platform digital juga diminta lebih bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap konten yang beredar. Pemerintah berharap perusahaan teknologi ikut aktif memblokir iklan maupun akun yang mempromosikan perjudian.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.




