HASANAH.ID – Gempa Myanmar yang terjadi pada Jumat pekan lalu menyebabkan kerusakan besar di sejumlah wilayah, termasuk Sagaing dan Mandalay. Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu 45 menit dari Mandalay kini memerlukan lebih dari 24 jam akibat infrastruktur yang rusak parah. Jalan-jalan retak, jembatan terputus, dan bangunan hancur menjadi pemandangan umum pascagempa.
Ko Zeyer, seorang pekerja sosial yang berasal dari Sagaing, mengungkapkan bahwa meski keluarganya selamat, banyak warga termasuk teman-temannya menjadi korban gempa Myanmar. Ia menuturkan bahwa kota tersebut kini porak poranda, dengan bau mayat menyengat di setiap sudut kota.
Pemerintah setempat mencatat lebih dari 3.100 orang telah dipastikan meninggal dunia akibat gempa Myanmar. Para penyelamat masih terus melakukan pencarian korban di tengah keterbatasan alat dan medan yang sulit dijangkau. Dalam kondisi ini, kebutuhan akan bantuan kemanusiaan semakin mendesak, terutama di wilayah-wilayah yang masih terisolasi.
Hingga saat ini, sebagian besar penduduk Sagaing dan sekitarnya masih tingga l di luar ruangan, menggunakan tikar seadanya untuk tidur. Ketakutan akan gempa susulan membuat banyak warga memilih bertahan di peron, lapangan, atau di ambang pintu rumah mereka agar dapat segera menyelamatkan diri bila terjadi guncangan lanjutan.
Krisis kemanusiaan di Myanmar semakin memburuk karena wilayah terdampak gempa juga berada di bawah kekuasaan junta militer yang sedang menghadapi konflik bersenjata. Ko Zeyer menyebutkan bahwa situasi ini menghambat distribusi bantuan dan memperlambat misi penyelamatan, menyebabkan banyak korban yang tidak tertolong tepat waktu.
Di lapangan, relawan seperti Kyaw Min menyampaikan bahwa hampir seluruh infrastruktur di Sagaing hancur. Mulai dari rumah, sekolah, tempat ibadah, hingga toko-toko. Ia menggambarkan kota itu seperti daerah pasca serangan besar. Para relawan pun terpaksa menggunakan tangan kosong untuk menggali puing-puing dalam upaya menyelamatkan korban gempa Myanmar.
Lebih lanjut, Kyaw Min mengungkap bahwa banyak korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan, termasuk anak-anak dan lansia. Sekitar 80 persen bangunan di kota tersebut dilaporkan rusak berat, memperparah situasi darurat yang tengah dihadapi masyarakat.
Kerusakan infrastruktur di jalan utama dan jembatan menghambat mobilitas tim penyelamat dan pengiriman alat berat seperti ekskavator. Hal ini memperlambat proses evakuasi dan penanganan korban gempa di Myanmar secara keseluruhan. Ko Zeyer menegaskan bahwa banyak nyawa tidak terselamatkan karena keterlambatan kedatangan bantuan.