Konsep penataan ruang ini mencerminkan perspektif Asmudjo mengenai manusia sebagai korban kerusakan alam.
“Jadi intimidatif yang saya maksud tadi soal manusia sebagai subjek bahwa pembangunan yang kini berlangsung jor-joran itu bisa membawa dampak terutama bagi alam. Makanya penataannya dibuat begitu sebisa mungkin untuk membangun kesadaran bahwa kerusakan ekologi ini sudah terjadi,” ujarnya.
Pameran ini akan terus mengalami perubahan dengan penambahan dan pengurangan karya sampai pameran berakhir.
“Akan ada karya-karya baru yang nanti masuk, karena memang belum seluruh karya selesai. Kemarin juga ada beberapa karya yang sudah diganti, jadi bisa disebut karya ini jadi satu kesatuan instalasi seni begitu,” sebutnya.
Asmudjo juga menyebutkan bahwa karya terakhir yang akan dipamerkan adalah hasil kolaborasi dengan Tisna, yang melibatkan pemulung dalam proses pembuatan karyanya, dengan fokus pada bahan baku sampah.
“Nanti mungkin yang terakhir masuk karya yang kolaboratif dengan Pak Tisna, itu juga akan kolab dengan pemulung-pemulung soal bahan baku karya itu, karena di karya kolaborasi ini saya fokusnya ke sampah,” terang dia.